foto bersama edit

Ketika melewati jembatan atau menaiki apartemen puluhan lantai, apakah Saudara pernah terlintas berpikir, bagaimana ini bisa dibangun? Bagaimana membangunnya? Dan atau berapa kah biaya untuk membangun ini?

Konstruksi bangunan yang telah direncanakan oleh para insinyur, dirancang dengan matang dengan perkiraan usia bangunan dan upaya perawatan. Para insinyur tentu tak ingin bangunannya retak, rusak, roboh, atau sekadar penggunanya jatuh karena lantainya yang licin.

Analogi di atas bukan sekadar anekdot yang dibuat-buat agar kita berfikir pesan apa yang tersirat. Tetapi realitas dalam konteks kekinian berkehidupan yang kita sibuk menggelorakan konsep toleransi, konsep moderasi beragama, atau bahkan konsep hubungan internasional. Tetapi kita lupa atau bahkan pura-pura lupa, yang terpenting adalah merawat keluarga, yaitu Ukhuwah Islamiyah.

Saya yakin, pembaca sangat memahami konsep ukhuwah Islamiyah. Juga yakin, telah menjalankan konsep tersebut, namun dalam menjalankannya justru kita melanggar norma-norma atau bahkan berkhianat pada konsep tersebut, tetapi kita tidak menyadarinya bahkan tidak mau tahu dan mau benar sendiri.

Pada artikel ini, dipaparkan bagaimana modal kita untuk membangun ukhuwah Islamiyah. Tidak mahal, hanya butuh 4T saja.

Modal 4T

T pertama, yatu taaruf. “Tak kenal maka tak sayang” menjadi ungkapan yang sering kita dengar di masyakat. Ungkapan ini benar adanya, mengapa kita sayang kepada keluarga kita? Karena kita mengenalnya dan hidup bersamanya. Untuk membangun ukhuwah Islamiyah, kita harus memulainya dengan taaruf, yaitu mengenal saudara kita sebagai saudara se-iman. Dalam Islam kita diajarkan untuk saling mengenal, bisa saja apa yang kita lihat sepintas jelek tetapi ketika kita mengenalnya dalam keimanan, maka kita akan menemukan kebaikan di dalamnya—berbading terbalik dengan suudzhon. Jalinan tersebut menjadi tali siaturahmi dalam bingkai persaudaraan.

T kedua, yaitu Ta’awun, Ketika kita telah mengenal saudara kita, maka dengan tali persaudaran maka akan hadir pula rasa saling memiliki. Dengan saling memiliki, maka akan terjalin pula tolong menolong sesama saudara. Perasaan empati dan peduli, mengenyampingkan latar belakang apa dan siapa saudara se-iman yang kita tolong dan menolong. Anda orang Jawa, dia orang Padang, maka tolong menolong tidak akan terhalang oleh identitas dan entitas, melainkan kuat atas dasar ukuwah.

T ketiga adalah Takaful. Dalam perbicangan dunia assuransi syariah, Takaful merujuk pada saling peduli dan memberi pertolongan kepada sesama. Takaful dijadikan istilah dalam ukhuwah untuk saling memahami dan peduli. Merka adalah saudara kita, maka sebagai saudara dan orang yang beriman, tentu tidak akan menjelek-jelekkan saudara kita, apalagi menghasut orang lain untuk ikut menjelekkan saudara kita. Ingat, menjelekkan saudara berarti sama saja kita memakan daging mentah-mentah saudara kita itu. Tentu tidak mau dan sudi bukan? Dalam konsep ini, kita diajak untuk saling melindungi, apabila dia salah, ingatkan, apabila dia akan masuk jurang, maka tolonglah.

T keempat adalah Tasamuh. "Sikap akhlak terpuji dalam pergaulan, terdapat rasa saling menghargai antara sesama manusia dalam batas-batas yang digariskan oleh ajaran Islam". Dalam konteks merawat ukuwah Islamiyah, kita juga harus toleran dengan kelompok lainnya. Ceminan Islam Rahmatan Lil Alamin, terwujud dari konsep ini. Lebih kerucutnya, dalam konteks kerja, kita akan menerapkan ini sebagai satu tujuan menggapai tujuan kerja. Dalam konteks kenegaraan, kita bersama menuju tujuan negera.

Konstruksi Ukhuwah Lingkungan Kerja

Di lingkungan kerja Saudara pastilah multicultural dan majemuk, bahkan beda pandangan. Pertanyaannya mengapa Anda betah di tempat kerja Anda sekarang? Apakah karena hanya mencari “cuan” untuk kebutuhan? Atau Anda punya ambisi lain? Atau semata-mata ikhlas dan hanya ingin menjalakan takdir yang telah digariskan?

Ada Bibik Kopi yang kerja di tempat Anda, ia selalu memberikan minuman hangat baik kopi, teh, atau minuman hangat lainnya dan meletakkan minuman tersebut di meja kerja Anda. Pada awalnya, ia pasti akan bertanya: “teh, kopi, atau susu”? bisa juga “manis, manis sedang, atau tawar? Berapa banyak kopinya? Satu sendok? Atau lebih atau kurang?” Pertanyaan-pertanyaan ini adalah upaya sang Bibik mengenal keinginan, kebiasaan, dan kebutuhan orang yang ia akan berikan layanan setiap harinya.

Kita belajar dari itu. Banyak orang di tempat kerja kita saat ini. Mereka berasal dari latar belakang yang berberda: beda daerah, beda adat, beda kebiasaan, beda budaya, beda hobi, beda bahasa, beda karakter atau tabiat. Perbedaan ini nikmat, perberdaan ini anugerah, dengan perbedaan kita melihat keindahan warna-warni teh, kopi, susu, atau air bening. Tetapi dalam kerja, kita hanya butuh satu visi dan satu tujuan.

Maka, yuk bermodalkan 4 T di atas, kita berfikir kembali apakah kita telah membangun ukhuwah? Atau justru kita telah menghancurkannya? Atau sudah retak-retak sedikit? Bangun kembali ukuwah!